Perang Badar

Perang Badr
Submitted by Buyung on Sun, 2006-02-12 12:20.

Tulisan ini dikutip dari "Mengenang kembali 1, 2, dan 3 Hijriah" dengan sedikit modifikasi yang insyaallah lebih memperakurat cerita sejarah. Tulisan ini sengaja dimodifikasi untuk masuk dalam kriteria "Cerita Nabi, Rasul, dan Sahabat."

Perang Badar terjadi tepat pada tanggal 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah. Di mulai ketika Rasulullah memerintahkan kaum muslim untuk melawan rombongan kafir Quraish yang sedang dalam perjalanan dari kota Sham ke kota Makkah. Pasukan muslimin saat itu ada 313 orang, terdiri dari 260 bersenjata dan 2 ekor kuda. Rombongan kafir Quraish melarikan diri, tapi Abu Sofyan berhasil meminta bala bantuan kepada rekan-rekannya.

Kafir Quraish keluar dari berbagai penjuru kota Makkah dan sekitarnya, 600 orang bersenjata, 100 ekor kuda, 700 ekor onta, dan suplai makanan lengkap yang sanggup untuk berhari-hari. Total pasukan kafir Quraish adalah 1000 orang. Tujuan utama mereka satu: melenyapkan kaum muslimin untuk selama-lamanya.

Saat itu, Rasul bisa saja memerintahkan menyerang dan kaum muslimin pasti turut pada perintah manusia termulia ini. Tapi, Rasul ingin menekankan kepada muslimin bahwa mereka berperang harus karena iman. Dia kumpulkan seluruh pasukannya dan bermusyawarah (sekalian memastikan iman para sahabatnya ini). Banyak para muhajirin yang angkat bicara, mengucapkan kata-kata terelegan yang bisa mereka ucapkan untuk menjelaskan dedikasi mereka untuk Islam. Dari sekian banyak itu, salah satu yang terkenal adalah Miqdad bin al Aswad. Dia bangkit dari duduknya dan berteriak "Ya Rasulullah, kami tidak akan mengatakan apa yang Bani Israil katakan kepada Musa, 'Pergilah kamu dan Tuhanmu dan berperanglah, kami akan duduk di sini menunggu.'(Al Maidah ayat 24) Ayo pergi bersama ridha Allah dan kami bersama-sama anda!"

Dan Rasulullahpun bahagia, tapi dengan kebijaksanaannya dia menunggu diam. Beberapa orang sahabat mengerti maksudnya. Sejauh ini hanya kaum Muhajirin saja yang berbicara, tapi kaum Ansar yang sudah ikut menderita bersama muslimin yang lain dan merupakan bagian dari pasukan Islam belum angkat bicara. Rasul tidak mau mereka merasa sebagai orang asing. Kemudian, salah seorang pemimpin Asnar, Sa'ad bin Mu'adah, berbicara, "Ya Rasulullah! Mungkin maksud anda itu adalah kami." Rasulullah mempersilakan Sa'ad berbicara lewat senyumnya yang lembut dan tenang.

Sa'adpun melanjutkan perkataannya yang indah, "Wahai Utusan Allah, kami sudah percaya kepadamu dan kami percaya apa yang anda katakan penuh kebenaran. Kami sudah berserah diri di dalam Islam, tekad kami adalah untuk mendengarkan dan menurutimu... Demi Allah, Tuhan yang sudah mengutus anda dengan kebenaran, jika anda masuk ke laut, kamu juga akan berhamburan ke laut bersama anda dan tidak akan ada satu orangpun yang diam di belakang... Semoga Allah menunjukkan anda dalam tindakan kami apa yang akan membuat anda senang. Mari berperang bersama kami, berserah dirilah kepada Allah." Rasulullah tersenyum dan sangat senang, kemudian bersabda, "Majulah dan bersenanglah, karena Allah sudah menjanjikan saya dua peperangan, dan demi Allah, saya sekarang melihat musuh kita terbaring tidak berdaya."

Pasukan Islam bergerak maju dan berkemah di dekat padang Badar (dekat Medinah, sebelah Utara Mekkah). Salah seorang sahabat, Al-hubab bin Mundhir, bertanya kepada Rasul, "Apakah Allah sudah memberimu wahyu untuk memilih daerah ini ataukah ini adalah bagian dari strategi perang ataukah hasil dari diskusi?" Rasulullah berkata, "ini adalah bagian dari strategi perang dan diskusi." Maka Al-Hubab menyarankan pasukan Islam untuk berkemah lebih ke Selatan di dekat sumur-sumur air, kemudian membuat basis dengan persediaan air yang cukup dan menghancurkan sumur-sumur lainnya yang kemungkinan besar akan di pakai pasukan kafir. Rasulullah menyetujui rencana ini.

Saran lain yang disetujui Rasulullah adalah dari Sa'ad bin Mu'adah. Sa'ad menyarankan untuk membangun sebuah tenda khusus untuk Rasulullah yang bisa melindungi beliau dari sergapan musuh. Tenda ini sekaligus menjadi pusat komando pasukan Islam. Abu Bakar diminta tinggal bersama Rasulullah sementar Sa'ad dan sebuah pasukan khusus menjaganya di luar.

Rasulullah menghabiskan waktu sepanjang malam sebelum perang dengan shalat dan berdoa, meskipun beliau sudah tahu bahwa Allah sudah menjanjikan beliau kemanangan. Inilah bentuk kecintaan dan pengabdian kepada Allah yang tertinggi, atau sering disebut "ain al yaqiin" - kondisi di mana penyerahan diri kepada Allah sudah total sempurna - yang membedakan dia dengan orang kedua dalam Islam saat itu, Abu Bakar r.a., yang "hanya" memiliki "ilm al yaqiin" - keyakinan pada janji.

Malam itu terjadi keajaiban. Alih-alih stres dan takut, pasukan Islam menikmati malam itu dengan senang dan tenang, dan akhirnya tertidur dengan pulas. Hujan pun turun, membasahi pasir padang Badr sehingga menjadi padat dan enak dipijak (pasir dalam kondisi kering, seperti pasir di pantai, membuat susah berjalan). Inilah seperti yang dijanjikan Allah dalam Al Anfaal (surat kedelapan) ayat 8:

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki (mu).

Subuh hari, Abu Bakar "menganggu" ibadah Rasul karena kafir Quraish sudah mendekat. Pasukan Islam dengan cepat bersiaga. Saat pasukan kafir Quraish sudah terlihat jelas oleh Rasul, Rasul memanjatkan doa, "Ya Allah! Kaum kafir Quraish yang menolak menyembahMu dan mendustai utusanMu sudah di sini. Ya Allah, saya menunggu kemenanganMu yang Engkau janjikan kepadaku. Saya memohon kepadaMu, ya Allah, untuk mengalahkan mereka."

Rasul memerintahkan untuk menunggu aba-abanya sebelum menyerang. Dia suruh pasukan panah bersiap dan pasukan pedang jangan bergerak kecuali musuh sudah dalam jangkauan pertarungan jarak dekat. Pasukan kafir Quraish datang dengan gagah dan sombong karena memiliki armada dan perlengkapan perang jauh lebih banyak. Ini dilukiskan dalam Al Quran surat Al Anfaal (surat kedepalan) ayat 19:

Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, maka telah datang keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti; maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahaya pun, biar pun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.

Saat pasukan kafir Quraish sudah sangat dekat, tiga orang dari pihak muslimin maju dan disambut oleh tiga orang dari pihak kafir. Saat itu ada semacam aturan bahwa peperangan harus dimulai dengan duel tiga lawan tiga. Masing-masing kelompok yang berperang mengirim tiga orang jagoannya untuk menantang tiga orang jagoan dari kelompok yang lain.

Kemudian, terjadilah konfrontasi tiga lawan tiga dari masing-masing pihak: Hamzah r.a. (paman Rasul) melawan 'Utbah bin Rabi'a, Ali bin Abi Thalib r.a. (kemenakan Rasul) melawan Al-Waliid bin 'Utbah, dan 'Ubaidah bin al-Harith (sahabat) melawan Shaybah bin Rabi'a. Hamzah dan Ali membunuh lawan-lawannya, tapi 'Ubaidah terluka dan jatuh ('Ubaidah meninggal beberapa hari setelah perang usai). Perang besarpun berkecamuk, pasukan muslim cepat terdesak karena kalah jumlah.

Rasul tidak henti-henti berdoa, "Ya Allah, jika kaum muslimin dikalahkan sekarang, tidak akan ada lagi yang menyembahmu." Abu Bakar menyaksaikan peristiwa pahit ini, beliaupun berkata pada Rasul, "Ya Rasulullah, anda sudah cukup menangis di hadapan Allah. Dia pasti akan memenuhi janjiNya terhadap anda."

Segera saja turun jawaban dari Allah seperti yang tertuang dalam Al Quran surat Al Anfaal (surat kedepalan) ayat 9 dan 10:

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut".

"Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Rasulullah di dalam tendanya tersentak dalam khusyuknya, berdiri dan berteriak penuh gembira, "Oh Abu Bakar! Berita gembira datang dari Rabmu, kemenangan Allah sudah dekat. Demi Allah, saya melihat Jibril di atas kudanya di dalam kabut angin ribut." Lalu dia keluar dari tendanya dan membacakan ayat 45 dari surat Al Qamar (surat ke-54):

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.

Umar bin Khatab r.a. yang mendengar ucapan Rasul berkata, "Saat ayat ini pertama kali turun, saya tanya Rasulullah apa maksudnya. Siapa yang dikalahkan? Siapa yang mundur ke belakang? Dan Rasul tidak menjawab. Tapi saat saya lihat dia mengulangi ayat itu dalam kondisi sekarang, saya mengerti."

Rasulullah kemudian mengambil segenggam pasir dan melemparkannya ke arah pasukan kafir Quraish seraya berkata, "kebingungan melanda mereka!" Saat segenggam pasir itu melayang, berhembuslah angin ribut dahsyat yang menerpa mata-mata musuh. Inilah janji Allah dalm surat Al Anfaal (surat kedelapan) ayat 18:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Pada saat itulah Rasul memerintahkan untuk melancarkan serangan balasan. Dia bacakan surat Ali Imran (surat ketiga) ayat 133:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Pasukan Islam saat itu belum tahu bahwa 1000 pasukan Malaikat ada di antara mereka, membuat 300 orang dengan segala keterbatasan senjata dan suplai makanan sanggup mengatasi 1000 orang dengan segala kelebihan senjata dan suplai makanan. Ketimpangan jumlah ini dan bagaimana Allah menurunkan bantuannya juga tergambar dalam surat Al Anfaal (surat kedelapan) ayat 43 dan 44:

(yaitu) ketika Allah menampakkan mereka kepadamu di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati."

Dan ketika Allah menampakkan mereka kepada kamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit pada penglihatan matamu dan kamu ditampakkan-Nya berjumlah sedikit pada penglihatan mata mereka, karena Allah hendak melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan. Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.

Perang Badar berakhir dengan kemenangan mutlak kaum muslimin. Banyak kaum kafir yang tewas, sementara sisanya lari bercerai-berai. Salah satu yang tewas dari pihak kafir adalah Abu Jahal. Saat Rasul melihat jasad Abu Jahal, beliau berkata, "Inilah Firaun bagi kaumnya."

Ada catatan khusus bagi Ali bin Abi Thalib. Perang ini adalah perang pertama bagi Ali dan semenjak itu tidak ada perang yang diikuti Rasulullah di mana Ali tidak menjadi satu di antara tiga *duler* dari pihak Muslim. Perang Badr adalah titik balik perkembangan Islam dari segi militer. Kemenangan ajaib kaum muslimin ini bergema di seluruh semenanjung Arab.

0 komentar:


 

K2 Modify 2007 | Use it. But don't abuse it.